kudhana file's

Sedulur Papat Lima Pancer

Posted by Kudhana pada September 7, 2010

Bagi sebagian orang jawa pasti tidak asing lagi dengan istilah ini, Sedulur Papat Lima Pancer. Sebenarnya apa sih arti istilah itu apakah mereka benar – benar ada dunia ini ? atau sebenarnya mereka hanyalah sebuah mitos yang didapat dari olah rasa yang dilakukan oleh para sesepuh jaman dahulu sebagai suatu cara memahami dan menghargai sebuah kehidupan ? ada beberapa wacana sehubungaan dengan istilah ini Menurut tradisi jawa (kejawen) setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti akan diikuti oleh para saudara halusnya, yaitu marmati, kawah, ari – ari dan rahsa. Marmati sendiri adalah samar mati atau rasa ketakutan atas kematian yang menyelimuti setiap ibu yang mengadung anaknya, biasanya rasa ini timbul pertama kali dalam pikiran sang ibu sampai saatnya persalinan tiba, yang kedua adalah kawah atau air ketuban dimana kawah ini akan keluar terlebih dahulu jika di bandingkan dengan bayi dalam proses kelahiran. Dan karea keduanya muncul sebelum jabang bayi maka mereka dianggap sebagai sedulur tua atau kakak tua, dengan sebutan kakang kawah untuk kawah atau air ketuban yang keluar. Setelah kawah lancar keluar maka di susul oleh sang bayi itu sendiri, dan kemudian setelah bayi keluar baru ari – ari (placenta), yang pada akhirnya diikuti oleh keluarnya rahsa atau darah dari seluruh proses persalina tersebut. Karena mereka berdua keluar setelah bayi, maka mereka di sebut sedulur enom, atau saudara muda dimana ari – ari yang keluar sering disebut dengan adi ari – ari. Sedangkan pusar bayi (manusia itu sendiri) yang puput (lepas) dianggap pula sebagai saudara bayi dan merupakan pusat dari semuanya, dari sinilah muncul istilah sedulur papat lima pancer yang sering kali kita dengar.

Terlepas dari semua itu sedulur papat juga bisa melambangkan dari empat nafsu yang harus di jaga setiap saat
yaitu:

1. Amarah, bila kita selalu mengutamakan nafsu amarah saja pada setiap saaat pada akhirnya kita akan terjebak pada rasa ingin menang sendiri yang akan mengakibatkan pertengkaran , perselisihan yang pada akhirnya menghilangkan rasa kesabaran, maka salah satu cara untuk menjaga amarah adalah dengan kesabaran

2. Keindahan (supiyah), pada dasarnya manusia senang dengan segala keindahan, contohnya wanita (asmara/berahi). maka orang yang senang bermain – main dengan nafsu yang satu ini dapat diibaratkan merusak dunia

3. Serakah (aluamah), manusia pada dasarnya juga memiliki sifat ini, dimana jika tidak di tekan dan di jaga tidak dipungkiri jika manusia ingin hidup berkecukupan sepanjang hidupnya

4. Keutamaan (mutmainah), walaupu nafsu ini merupakan nafsu kebajikan, tetapi jika berlebihan melebihi batas maka juga tidak akan baik hasilnya, misalkan kita memberi pertolongan kepada orang lain tetapi tidak memperdulikan diri sendiri, orang lain tertolong tetapi kita sendiri jadi kesulitan

Untuk itulah di perlukan sosok manusia sebagai pusat yang bisa menjaga keempat nasu tersebut jangan sampai berlebihan, dimana disetiap waktu manusia pasti akan mendapatkan ujian yang berkenaan dengan empat nafsu diatas, dan jikalau manausia gagal dalam ujian tersebut maka dapat di pastikan hancurlah dunianya, karena manusia sebagai pusat dan patokan dari segala nafsunya.

Didalam dunia pewayangan, sering kita mendapatkan lelakon dimana terdapat satu ksatrian yang di kawal oleh empat punakawan, yaitu semar, gareng, petruk, dan bagong. Setiap tugas yang di emban oleh sang ksatria pasti akan dapat di selesaikan dengan bantuan para punakawan ini. Para punakawan di gambarkan memiliki peranan yang sangat menentukan keberhasilan didalam setiap tugas (kehidupan) yang di emban sang ksatria. Semar didalam pewayangan adalah penggambaran dari penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses
dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar
dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol
dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih.
Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.
Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki
pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa
kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-
hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam
kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang
bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki,
tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya
disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu
bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama
pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah
merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya
dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan
seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria
dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam
hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus
(rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).
Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan ‘ngelmu’ sedulur papat lima
pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya.

jadi tidak berlebihan jika konsep sedulur papat lima pancer, memang dapat di temukan dan dirasakan di kehiduoan kita sehari – hari, dan sudah pantas dan sewajarnya lah jika kita masing – masing pribadi dan individu dapat mejaga dan memanfaatkan sedulur – sedulur kita sebagaimana mestinya sehingga pada akhirnya kita pribadi dapat menjadi pribadi utama yang dapat menyelesaikan setiap tugas (kehidupan) yang telah di anugerahkan kepada kita sesuai dengan yang diharapkan

(dari berbagai sumber)

2 Tanggapan to “Sedulur Papat Lima Pancer”

  1. rizalihadi said

    Mantab, om… matur nuwun🙂

  2. Utomo DH said

    sedulur papat lima pancer barangkali kalo bisa digabungkan dan dikuasai itu ibaratnya nafsu mutmainah ki Kudhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: