kudhana file's

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘sosial’

Perbedaan……….disyukuri atau disesali

Posted by Kudhana pada Januari 14, 2011

Perbedaan ……………………………………… salah satu kata (baca: kondisi) yang sering kita hindari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, sosial dan Kerja. Disadari atau tidak,  di setiap detik hidup kita selalu di penuhi dengan kondisi penuh perbedaan ini. Dari kita bangun tidur kebiasaan yang kita lakukan pasti berbeda satu dengan yang lain, bahkan di dalam lingkungan keluarga sekalipun. Ada yang begitu bangun pagi langsung mandi dan bersih – bersih diri, ada juga yang setalah bangun tidur langsung berolah raga, sarapan, atau pun tidur lagi, begitu pula dengan kita di lingkungan kerja, banyak sekali perbedaan baik cara dan pemikiran yang muncul antar rekan sekerja guna mencapai suatu tujuan yang telah di tentukan.

Demikian pula dengan perbedaan yang ada di dalam  lingkungan sosial masyarakat, banyak sekali perbedaan yang dapat kita  temukan di dalamnya, semisal perbedaan suku, agama, dan budaya. Tidak sedikit  konflik  yang sebenarnnya tidak diperlukan, di timbulkan karena perbedaan yang ada, ditambah lagi ketakutan akan kesuperioritasan salah satu perbedaan, yang di khawatirkan akan menekan dan “mengganggu” perbedaan yang lain, semakin mempertajam dan memperparah konflik antar perbedaan tersebut. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Umum | Bertanda: | 1 Komentar »

Motivasi Kerja

Posted by Kudhana pada Juli 14, 2009

motivation_372855Suatu hari di saat perjalan pulang kerumah dari bekerja, istri bercerita mengenai persoalan di Laboratoriumnya (baca: kantornya). Ia bercerita kalau salah satu produk yang di hasilkan oleh perusahaan kosmetik dimana ia bekerja di bawah departemen R & D (Research & Development) mendapatkan penghargaan nasional sebagai salah satu produk terbaik (best brand), kebetulan produk tersebut salah satu produk yang di kerjakan oleh divisi dimana istri merupakan salah satu personil didalamnya. Ia bercerita bahwa pada malam penerimaan penghargaan  kenapa tidak ada seorangpun dari divisi tersebut yang di ajak untuk menghadiri acara, ya paling tidak kepala divisi-lah, sebagai salah satu bentuk apresiasi perusahaan terhadap karyawan atas prestasi yang di raih. Hal tersebut menurut istri ternyata telah cukup mengganggu motivasi para karywan lain dalam bekerja, karena mereka di anggap hanya sebagi karyawan kecil yang remeh, dimana tidak ada sama sekali perhatian dari perusahaan akan jerih payah mereka. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Debat Calon Presiden

Posted by Kudhana pada Juni 19, 2009

debateItulah judul yang diusung dalam rangka mempersiapkan PilPres 8 Juli 2009 mendatang.  Dalam kesempatan itu hadir ketiga calon presiden yang akan memperebutkan kursi presiden periode 2009 – 2014 yang akan datang. Acara tersebut di siarkan langsung oleh sebuah televisi swasta, tapi sayang acara yang di gelar ternyata tidak mencerminkan judul yang di usung,  dimana secara umum aktifitas “Debat” adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan dengan mengikuti aturan – aturan yang jelas. Di dalam acara tersebut hampir tidak terlihat nuansa debat sama sekali,  karena tidak ditemukan aktifitas adu argumentasi antara para kandidat calon presiden, memang sebelumnya, menurut media massa nasional yang ada, para calon presiden telah bersepakat untuk tidak melakukan aktifitas Argumentasi pada acara tersebut, dan meminta sesi yang khusus di persiapkan untuk saling melempar argumentasi satu dengan yang lain ini untuk di tiadakan. Mungkin Maksud tujuan menghilangkan sesi khusus ini adalah untuk memperlihatkan bahwa sebagai calon pemimpin no.1 di republik mereka harus mengedepankan rasa saling menghormati dan “tepo saliro”.

Berbeda dengan panggung debat calon presiden, di tempat lain setelah  debat presiden ini selesai di laksanakan, di gelar juga acara lain denga tajuk “dialog PilPres” yang di tayangkan langsung oleh salah satu televisi swasta lainnya. Meskipun judulnya hanya sebatas dialog, tetapi nuansa yang di dapat terasa lebih hidup dibanding debat calon presidennya sendiri, memang kebetulan yang ada di dalan acara dialog tersebut adalaha para Simpatisan masing – masing calon presiden dan di lengkapi oleh beberapa praktisi  dan pengamat politik. Di dalam acara tersebut para simpatisan saling mengajukan argumen mereka masing – masing yang membela dan beranggapan bahwa calon presiden yang mereka dukung adalah yang terbaik, suasana memang sangat hidup kalau tidak ingin dibilang panas, karena setiap simpatisan cenderung tidak mau  jika calon presiden yang di dukungnya di kritik dan di “lemah”kan oleh simpatisan calon presiden lainnya, yang akhirnya membuat acara yang sebenarnya hanya merupakan dialog berubah menjadi ajang debat yang cukup menarik perhatian.

Ironis sekali, pada saat para calon Presiden sepakat untuk tidak menjatuhkan satu sama lain, dimana mereka terlihat menghargai satu sama lain di dalam panggung terbuka “debat calon presiden” mereka, ternyata semua itu hanya sebuah penampakan kecil gunung es saja yang mereka perlihatkan dari persaingan ketat mereka untuk memperebutkan kursi no.1 di negeri ini. Terlihat dengan antusiasme para simpatisan masing – masing calon presiden di akar rumput  yang cenderung bisa menimbulkan gesekan – gesekan yang tidak penting, mencerminkan di balik semua ke”adem ayem”an yang di perlihatkan oleh para kandidat, tersimpan suatu energi yang dahsyat yang jika tidak di kelola dengan baik  akan meledak yang pada akhirnya akan menimbulkan banyak kerugian bagi bangsa dan negara, khususnya bagi masyarakat kecil. Yang perlu di ingat adalah di setiap kompetisi pasti ada pihak yang kalah dan menang, demikian pun dengan pilpres yang akan datang, akankah masing – masing kandidat  dapat dengan rela ” legawa” menerima hasil dengan apa adanya? dan mampukan mereka mengontrol serta menyalurkan “energi” simpatisan mereka kearah yang positif dan membangun?

Seperti yang di utarakan salah satu kandidat presiden dalam acara debat calon presiden, semoga Pilpres yang akan datang dapat dilakukan dengan jujur, transparan, langsung, umum, bebas dan rahasia sehingga dapat menghasilkan seorang pemimpin yang benar – benar merupakan pilihan rakyat, yang pada akhirnya dapat meredam dan menyalurkan energi – energi yang ada ke arah yang positif

semoga …………………………………

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Budaya Claim dan Jembatan Suramadu

Posted by Kudhana pada Juni 11, 2009

kalau melihat judul diatas mungkin kita berpikir kok ndak ada hubungannya ya ……………….., memang sebenarnya tidak ada hubungan secara langsung antara budaya claim dengan jembatan suramadu ini. Di kehidupan kita sehari – hari sudah jamak kalau kita melakukan Claim (kamus inggris: tuntutan, menyatakan) untuk segala sesuatu yang menjadi hak kita, misalnya kita harus membayar biaya pengobatan kita yang pada akhirnya kuitansi yang kita dapatkan akan kita “claim” ke kantor tempat kita bekerja, atau kalau kita membeli barang ataupun jasa, tetapi kita tidak puas dengannya maka kita pun akan melakukan claim ke pihak penyedia barang & jasa tersebut. Begitu pula jika kita melihat tayangan iklan politik di televisi – televisi akhir -akhir ini  yang meng”claim” bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan masalah (pangan, energi, tenga kerja, bencana alam) di bumi Indonesia ini adalah karena campur tangannya, seakan – akan ingin menyatakan kepada permisanya bahwa tanpanya tidak akan ada keberhasilan di dalam penyelesaian masalah yang timbul, meskipun sebenarnya banyak sekali “invisible hand” dan tangan – tangan lain yang secara bekerja sama ikut membantu menyelesaikan masalah yang timbul. Ironis memang kenapa hanya keberhasilan saja yang menjadi ajang rebutan claim para elit politik di dalam iklan tersebut, bagaimana dengan ketidak berhasilan yang telah di capai, kita ambil contoh penyelesaian masalah lumpur lapindo yang sudah lebih dari 3 tahun tidak ada penyelesaian, yang pada akhirnya hanya menimbulkan kesengsaraan yang berkesimbangunan bagi ribuan orang  korbannya, apakah ada elit politik yang berani mengclaim bahwa kegagalan tersebut juga hasil dari jerih payah dan campur tangan mereka ? saya pikir kok belum ada yang berani.  apakah dengan merebutkan keberhasilan “semu” tersebut maka dengan serta merta akan membantu mendongkrak popularitas ? jawabannya adalah mungkin, mungkin ya mungkin tidak. Ya jika iklan claim tersebut di konsumsi oleh kalangan kecil yang merasa terbantu (baca:diuntungkan), dan tidak bagi sebagian besar kalangan yang belum mearasakan hasilnya.

Terlepas dari semua itu kemarin secara resmi Jembatan Suramadu mulai dioperasikan, jembatan ini  menjadi salah satu ikon untuk mendongkrak popularitas bangsa yang sedikit sudah mulai tidak populer dikarenakan banyaknya permasalahan yang timbul. Jembatan dengan total panjang kurang lebih 5,348 km ini di bangun melintasi selat madura yang menghubungkan surabaya dengan bangkalan di pulau madura. Jembatan Suramadu yang merupakan jembatan terpanjang di Indonesia, bahkan di perkirakan terpanjang di asia tenggara ini telah menghabiskan dana sekitar Rp 4,5 trilliun rupiah. Proyek yang sudah sejak lama dicita – citakan oleh Presiden RI pertama, IR Soekarno ini baru dimulai tahun 2003 dan memakan waktu hampir 6 tahun masa mengerjaannya, dimana proyek tersebut baru dapat diselesaikan pada tahun 2009 ini. Yah memang jembatan ini patut kita banggakan karena kita bisa mengclaim jembatan ini sebagai milik kita tanpa harus takut berebut claim dengan “orang/negara lain”, 100% milik Indonesia. Entah siapa lagi di kemudian hari yang akan mengclaim bahwa jembatan suramadu ini merupakan salah  satu sumbangan idenya yang berhasil membawa kemakmuran di dalam kehidupan masyarakat. Ayo ayo ayo buruan claim suramadu sebelum didahului orang lain.

Kita tunggu saja  …………………………..

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.