kudhana file's

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Budaya’

Gundul – gundul pacul, sebuah lagu dolanan dan filosofinya

Posted by Kudhana pada Mei 9, 2011

Bagi rekan-rekan yang berasal dari Jawa Tengah, mungkin tidak asing lagi dengan lagu Gundul – Gundul Pacul yang biasa kita nyanyikan sewaktu kita berkumpul dengan rekan – rekan baik di lingkungan rumah maupun  disekolahan. Liriknya adalah demikian :

Gundul gundul pacul-cul,gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400 an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota. Sedangkan pacul:adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat.  Pacul:adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani. Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas), Artinya  bahwa kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yaitu:  bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya. Pertama, Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.  Kedua,Telinga digunakan untuk mendengar nasehat. Ketig, Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan. Keempat, Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil. Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.   Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat.  Tetapi dia malah pertama, menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya. kedua, Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia. ketiga, Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

Nyunggi wakul, gembelengan‚ Nyunggi wakul artinya membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya. Wakul‚ adalah:simbol kesejahteraan rakyat. Kekayaan negara, sumberdaya,Pajak adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.  Kedudukannya di bawah bakul rakyat. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?  Tentu saja pemilik bakul. Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Dan banyak pemimpin yang masih‚ gembelengan (melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main). Akibatnya; Wakul ngglimpang segane dadi sak latar‚ Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.  Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak  terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat. Semoga kita jadi pribadi yang memiliki integritas sehingga siap menjadi suri tauladan dimanapun kita berada

semoga bermanfaat

(sumber : dari milis sebelah)

Ditulis dalam Umum | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kejawen opo to kuwi ……..?

Posted by Kudhana pada Maret 22, 2011

Orang jawa pasti mengenal istilah atau kata kejawen, bagi orang yang “percaya” kejawen adalah suatu pandangan, pegangan dan tuntunan hidup, dimana jika kita menjalani dan melakukannya niscaya akan terhindar dari segala kesulitan dan kemalangan, tetapi bagi sebagian orang, kejawen merupakan budaya nenek moyang semata, dimana kebanyakan orang yang melakukan dan mengamalkan ajaran nya merupakan upaya untuk melestarikan kebudayaan jawa semata tanpa ada alasan lain di luar itu. Didalam kejawen banyak sekali “unen- unen” atau kata – kata kebijaksanaan yang dapat di amalkan dan di gunakan, dimana unen – unen tersebut dapat di tafsirkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi dan sesuai dengan pemahamannya masing – masing.  Disinilah letak keunggulan dari kebudayaan jawa ini, karena sifatnya yang tidak menggurui dan tidak memaksakan kehendak, semua tuntuan cukup di sampaikan saja, mau dilaksanakan (bagi yang menganggap baik) ya silahkan, tapi jika tidak di laksanakan (yang menganggap tidak penting) juga tidak masalah dan tidak akan terkena sangsi apa – apa, karena yang akan mendapatkan manfaat adalah yang melakukan nya sendiri secara langsung, Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Umum | Bertanda: | 2 Komentar »

Sedulur Papat Lima Pancer

Posted by Kudhana pada September 7, 2010

Bagi sebagian orang jawa pasti tidak asing lagi dengan istilah ini, Sedulur Papat Lima Pancer. Sebenarnya apa sih arti istilah itu apakah mereka benar – benar ada dunia ini ? atau sebenarnya mereka hanyalah sebuah mitos yang didapat dari olah rasa yang dilakukan oleh para sesepuh jaman dahulu sebagai suatu cara memahami dan menghargai sebuah kehidupan ? ada beberapa wacana sehubungaan dengan istilah ini Menurut tradisi jawa (kejawen) setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti akan diikuti oleh para saudara halusnya, yaitu marmati, kawah, ari – ari dan rahsa. Marmati sendiri adalah samar mati atau rasa ketakutan atas kematian yang menyelimuti setiap ibu yang mengadung anaknya, biasanya rasa ini timbul pertama kali dalam pikiran sang ibu sampai saatnya persalinan tiba, yang kedua adalah kawah atau air ketuban dimana kawah ini akan keluar terlebih dahulu jika di bandingkan dengan bayi dalam proses kelahiran. Dan karea keduanya muncul sebelum jabang bayi maka mereka dianggap sebagai sedulur tua atau kakak tua, dengan sebutan kakang kawah untuk kawah atau air ketuban yang keluar. Setelah kawah lancar keluar maka di susul oleh sang bayi itu sendiri, dan kemudian setelah bayi keluar baru ari – ari (placenta), yang pada akhirnya diikuti oleh keluarnya rahsa atau darah dari seluruh proses persalina tersebut. Karena mereka berdua keluar setelah bayi, maka mereka di sebut sedulur enom, atau saudara muda dimana ari – ari yang keluar sering disebut dengan adi ari – ari. Sedangkan pusar bayi (manusia itu sendiri) yang puput (lepas) dianggap pula sebagai saudara bayi dan merupakan pusat dari semuanya, dari sinilah muncul istilah sedulur papat lima pancer yang sering kali kita dengar. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Umum | Bertanda: | 2 Komentar »

Motivasi Kerja

Posted by Kudhana pada Juli 14, 2009

motivation_372855Suatu hari di saat perjalan pulang kerumah dari bekerja, istri bercerita mengenai persoalan di Laboratoriumnya (baca: kantornya). Ia bercerita kalau salah satu produk yang di hasilkan oleh perusahaan kosmetik dimana ia bekerja di bawah departemen R & D (Research & Development) mendapatkan penghargaan nasional sebagai salah satu produk terbaik (best brand), kebetulan produk tersebut salah satu produk yang di kerjakan oleh divisi dimana istri merupakan salah satu personil didalamnya. Ia bercerita bahwa pada malam penerimaan penghargaan  kenapa tidak ada seorangpun dari divisi tersebut yang di ajak untuk menghadiri acara, ya paling tidak kepala divisi-lah, sebagai salah satu bentuk apresiasi perusahaan terhadap karyawan atas prestasi yang di raih. Hal tersebut menurut istri ternyata telah cukup mengganggu motivasi para karywan lain dalam bekerja, karena mereka di anggap hanya sebagi karyawan kecil yang remeh, dimana tidak ada sama sekali perhatian dari perusahaan akan jerih payah mereka. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Debat Calon Presiden

Posted by Kudhana pada Juni 19, 2009

debateItulah judul yang diusung dalam rangka mempersiapkan PilPres 8 Juli 2009 mendatang.  Dalam kesempatan itu hadir ketiga calon presiden yang akan memperebutkan kursi presiden periode 2009 – 2014 yang akan datang. Acara tersebut di siarkan langsung oleh sebuah televisi swasta, tapi sayang acara yang di gelar ternyata tidak mencerminkan judul yang di usung,  dimana secara umum aktifitas “Debat” adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan dengan mengikuti aturan – aturan yang jelas. Di dalam acara tersebut hampir tidak terlihat nuansa debat sama sekali,  karena tidak ditemukan aktifitas adu argumentasi antara para kandidat calon presiden, memang sebelumnya, menurut media massa nasional yang ada, para calon presiden telah bersepakat untuk tidak melakukan aktifitas Argumentasi pada acara tersebut, dan meminta sesi yang khusus di persiapkan untuk saling melempar argumentasi satu dengan yang lain ini untuk di tiadakan. Mungkin Maksud tujuan menghilangkan sesi khusus ini adalah untuk memperlihatkan bahwa sebagai calon pemimpin no.1 di republik mereka harus mengedepankan rasa saling menghormati dan “tepo saliro”.

Berbeda dengan panggung debat calon presiden, di tempat lain setelah  debat presiden ini selesai di laksanakan, di gelar juga acara lain denga tajuk “dialog PilPres” yang di tayangkan langsung oleh salah satu televisi swasta lainnya. Meskipun judulnya hanya sebatas dialog, tetapi nuansa yang di dapat terasa lebih hidup dibanding debat calon presidennya sendiri, memang kebetulan yang ada di dalan acara dialog tersebut adalaha para Simpatisan masing – masing calon presiden dan di lengkapi oleh beberapa praktisi  dan pengamat politik. Di dalam acara tersebut para simpatisan saling mengajukan argumen mereka masing – masing yang membela dan beranggapan bahwa calon presiden yang mereka dukung adalah yang terbaik, suasana memang sangat hidup kalau tidak ingin dibilang panas, karena setiap simpatisan cenderung tidak mau  jika calon presiden yang di dukungnya di kritik dan di “lemah”kan oleh simpatisan calon presiden lainnya, yang akhirnya membuat acara yang sebenarnya hanya merupakan dialog berubah menjadi ajang debat yang cukup menarik perhatian.

Ironis sekali, pada saat para calon Presiden sepakat untuk tidak menjatuhkan satu sama lain, dimana mereka terlihat menghargai satu sama lain di dalam panggung terbuka “debat calon presiden” mereka, ternyata semua itu hanya sebuah penampakan kecil gunung es saja yang mereka perlihatkan dari persaingan ketat mereka untuk memperebutkan kursi no.1 di negeri ini. Terlihat dengan antusiasme para simpatisan masing – masing calon presiden di akar rumput  yang cenderung bisa menimbulkan gesekan – gesekan yang tidak penting, mencerminkan di balik semua ke”adem ayem”an yang di perlihatkan oleh para kandidat, tersimpan suatu energi yang dahsyat yang jika tidak di kelola dengan baik  akan meledak yang pada akhirnya akan menimbulkan banyak kerugian bagi bangsa dan negara, khususnya bagi masyarakat kecil. Yang perlu di ingat adalah di setiap kompetisi pasti ada pihak yang kalah dan menang, demikian pun dengan pilpres yang akan datang, akankah masing – masing kandidat  dapat dengan rela ” legawa” menerima hasil dengan apa adanya? dan mampukan mereka mengontrol serta menyalurkan “energi” simpatisan mereka kearah yang positif dan membangun?

Seperti yang di utarakan salah satu kandidat presiden dalam acara debat calon presiden, semoga Pilpres yang akan datang dapat dilakukan dengan jujur, transparan, langsung, umum, bebas dan rahasia sehingga dapat menghasilkan seorang pemimpin yang benar – benar merupakan pilihan rakyat, yang pada akhirnya dapat meredam dan menyalurkan energi – energi yang ada ke arah yang positif

semoga …………………………………

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Budaya Claim dan Jembatan Suramadu

Posted by Kudhana pada Juni 11, 2009

kalau melihat judul diatas mungkin kita berpikir kok ndak ada hubungannya ya ……………….., memang sebenarnya tidak ada hubungan secara langsung antara budaya claim dengan jembatan suramadu ini. Di kehidupan kita sehari – hari sudah jamak kalau kita melakukan Claim (kamus inggris: tuntutan, menyatakan) untuk segala sesuatu yang menjadi hak kita, misalnya kita harus membayar biaya pengobatan kita yang pada akhirnya kuitansi yang kita dapatkan akan kita “claim” ke kantor tempat kita bekerja, atau kalau kita membeli barang ataupun jasa, tetapi kita tidak puas dengannya maka kita pun akan melakukan claim ke pihak penyedia barang & jasa tersebut. Begitu pula jika kita melihat tayangan iklan politik di televisi – televisi akhir -akhir ini  yang meng”claim” bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan masalah (pangan, energi, tenga kerja, bencana alam) di bumi Indonesia ini adalah karena campur tangannya, seakan – akan ingin menyatakan kepada permisanya bahwa tanpanya tidak akan ada keberhasilan di dalam penyelesaian masalah yang timbul, meskipun sebenarnya banyak sekali “invisible hand” dan tangan – tangan lain yang secara bekerja sama ikut membantu menyelesaikan masalah yang timbul. Ironis memang kenapa hanya keberhasilan saja yang menjadi ajang rebutan claim para elit politik di dalam iklan tersebut, bagaimana dengan ketidak berhasilan yang telah di capai, kita ambil contoh penyelesaian masalah lumpur lapindo yang sudah lebih dari 3 tahun tidak ada penyelesaian, yang pada akhirnya hanya menimbulkan kesengsaraan yang berkesimbangunan bagi ribuan orang  korbannya, apakah ada elit politik yang berani mengclaim bahwa kegagalan tersebut juga hasil dari jerih payah dan campur tangan mereka ? saya pikir kok belum ada yang berani.  apakah dengan merebutkan keberhasilan “semu” tersebut maka dengan serta merta akan membantu mendongkrak popularitas ? jawabannya adalah mungkin, mungkin ya mungkin tidak. Ya jika iklan claim tersebut di konsumsi oleh kalangan kecil yang merasa terbantu (baca:diuntungkan), dan tidak bagi sebagian besar kalangan yang belum mearasakan hasilnya.

Terlepas dari semua itu kemarin secara resmi Jembatan Suramadu mulai dioperasikan, jembatan ini  menjadi salah satu ikon untuk mendongkrak popularitas bangsa yang sedikit sudah mulai tidak populer dikarenakan banyaknya permasalahan yang timbul. Jembatan dengan total panjang kurang lebih 5,348 km ini di bangun melintasi selat madura yang menghubungkan surabaya dengan bangkalan di pulau madura. Jembatan Suramadu yang merupakan jembatan terpanjang di Indonesia, bahkan di perkirakan terpanjang di asia tenggara ini telah menghabiskan dana sekitar Rp 4,5 trilliun rupiah. Proyek yang sudah sejak lama dicita – citakan oleh Presiden RI pertama, IR Soekarno ini baru dimulai tahun 2003 dan memakan waktu hampir 6 tahun masa mengerjaannya, dimana proyek tersebut baru dapat diselesaikan pada tahun 2009 ini. Yah memang jembatan ini patut kita banggakan karena kita bisa mengclaim jembatan ini sebagai milik kita tanpa harus takut berebut claim dengan “orang/negara lain”, 100% milik Indonesia. Entah siapa lagi di kemudian hari yang akan mengclaim bahwa jembatan suramadu ini merupakan salah  satu sumbangan idenya yang berhasil membawa kemakmuran di dalam kehidupan masyarakat. Ayo ayo ayo buruan claim suramadu sebelum didahului orang lain.

Kita tunggu saja  …………………………..

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.