Setelah melihat kondisi pembangunan rumah di lapangan yang tidak kunjung selesai serta keyakinan bahwa tidak akan terpernuhinya komitmen GDC atas hasil pertemuan pertama maka, kami konsumen GDC akhirnya mengirimkan surat keluhandan kebertan kedua kami ke pihak GDC. Di bawah ini adalah surat keluhan dan keberatan kolektif kami yang kedua yang telah dikirimkan ke pihak GDC pada tgl 18 Juli 2009 yang lalu
Kepada yth. Depok, 18 Juli 2009
Pimpinan
PT. Dinamika Alam Sejahtera (DAS)
Developer Grand Depok City (GDC)
Di Depok
Perihal : Surat Keluhan dan Keberatan kedua
Dengan hormat,
Bersama surat ini kami, Konsumen DAS yang membeli rumah di GDC baik secara kontan maupun secara kredit, Kembali ingin meyampaikan beberapa keluhan dan keberatan kami terhadap beberapa permasalahan yang masih kami temui :
A. Untuk konsumen yang belum melakukan serah terima rumah
- Bahwa berdasarkan kesepakatan dalam pertemuan pertama antara Konsumen dengan DAS tertanggal 2 Mei 2009 DAS menjanjikan serah terima rumah di lakukan pada bulan Juli 2009 (terlampir), Hal ini merupakan janji kedua setelah DAS terlambat untuk melakukan penyerahan rumah kepada Konsumen sesuai jangka waktu 12 bulan dalam PPJB
- Bahwa melihat fakta di lapangan dimana kontinuitas pembangunan rumah masih sering terhenti / terkendala karena berbagai macam masalah
- Bahwa atas keterlambatan penyerahan rumah dan fasilitasnya tersebut, kami Konsumen GDC telah mengalami kerugian materiil akibat rumah yang tidak kunjung bisa dimanfaatkan;
- Bahwa kualitas rumah dalam proses pembangunan tidak memenuhi standar (antara lain rangka atap kayu yang rapuh dan rusak, kuda – kuda yang tidak sesuai standar, kusen yang rapuh, bangunan yang miring, plesteran yang asal – asalan, ornamen depan yang akan menimbulkan masalah, tidak ada ventilasi, pekerjaan bongkar pasang dll) dan developer tidak dengan segera memperbaiki kualitas bangunan. Baca entri selengkapnya »









Suatu hari di saat perjalan pulang kerumah dari bekerja, istri bercerita mengenai persoalan di Laboratoriumnya (baca: kantornya). Ia bercerita kalau salah satu produk yang di hasilkan oleh perusahaan kosmetik dimana ia bekerja di bawah departemen R & D (Research & Development) mendapatkan penghargaan nasional sebagai salah satu produk terbaik (best brand), kebetulan produk tersebut salah satu produk yang di kerjakan oleh divisi dimana istri merupakan salah satu personil didalamnya. Ia bercerita bahwa pada malam penerimaan penghargaan kenapa tidak ada seorangpun dari divisi tersebut yang di ajak untuk menghadiri acara, ya paling tidak kepala divisi-lah, sebagai salah satu bentuk apresiasi perusahaan terhadap karyawan atas prestasi yang di raih. Hal tersebut menurut istri ternyata telah cukup mengganggu motivasi para karywan lain dalam bekerja, karena mereka di anggap hanya sebagi karyawan kecil yang remeh, dimana tidak ada sama sekali perhatian dari perusahaan akan jerih payah mereka.